Bukan puisi, hanya cerita dan mirip diary
Malam itu, aku memandangimu. Dari ujung rambut,hingga ujung kakimu. Biasa saja.
Pertama saat aku menatapmu, Kau tersenyum. Entah senyum itu tulus, atau senyum yang asal. Tapi, senyum itulah yang kemudian membuatku tak bisa melupakanmu. Hingga kini, malam ini.
Aku sendiri tak pernah mengerti. Rasa yang hadir di malam setelah pertemuan itu, selalu rasa ingin bertemu. Hatiku satu, yaitu kamu. Lelaki sederhana, apa adanya.
Me, ji, ku, hi, bi, ni, u. Merah, jingga, kuning, hujau, biru, nila,ungu.
Warna pelangi. Itulah warna hatiku malam ini. Kubuat indah sendiri. Aku merasa nyaman, walau kau hanya beri senyuman.
Aku suka sederhanamu. Aku suka apa adamu. Karena aku mengerti, bahwa cinta yang sederhana, menurutku lebih berarti.
Mengertilah, bahwa cinta itu tak selalu indah dengan kemewahan.
Sadarilah, bahwa cinta juga tidak selalu memberi tahu, karena cinta itu iklas.
Aku sanggup, untuk menerima "hanya" senyummu.Tapi aku rela memberi lebih untuk itu.
Itulah cinta yang kurasa, berkorban.
Sederhanamu, mampu hilangkan semua kata-kata hebat dan berat yang kupelajari pada ilmu sastraku.
Entahlah, semuanya tiba-tiba blank.....
Yah hanya ini.
Akupun belajar sederhana untuk menulis.
Kamu membuatku terinspirasi apa adanya, dengan jujur.
Menurutku,sederhanamu hebat. Mampu hempaskan semua bebanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar